MARI MENULIS…


MENULIS, MUDAHKAH?
By: Hj. Neneng Ida D., S.Pd.SD
(KKG II Paseh SDN Babakanbuah)

Menulis merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam seluruh proses pembelajaran yang terjadi sehari-hari. Mulai dari menyusun rencana pembe-lajaran, menilai hasil pembelajaran, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan sampai menyusun rencana bimbingan. Semua itu tidak terlepas dari tanggung jawab dan peran guru.

Sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,m mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Dari sanalah guru memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi yang dapat ditulis. Guru bisa menuliskan soal duka cita menjadi guru, bahkan sisi-sisi kehidupan guru sekali pun dapat dijadikan bahan tulisan.

Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis? Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis?

Realitas rendahnya budaya menulis di kalangan guru, ditunjukkan dengan langkanya buku-buku yang ada di perpustakaan maupun tulisan di media massa yuang ditulis guru. Bahkan untuk membuat karya tulis sekalipun diajukan untuk kenaikan pangkat, banyak yang tidak bisa. Padahal karya tulis yang berbentuk PTK merupakan sebuah upaya pengembangan profesi guru dalam pembelajaran.

Penerapan PTK dalam pembelajaran, tiada lain untuk memperbaiki/meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan. Dan tidak kalah pentingnya dalam PTK tersebut mengangkat masalah-masalah yang dihadapi guru dan merupakan permasalahan aktual. Hal ini, merupakan bahan bagi guru untuk menulis.

Bagi sebagian besar guru, mungkin kegiatan menulis dirasakan sulit, Benarkah? Saya menghimbau agar para guru tidak pesimis untuk mulai menulis. Karena kalau kita baca literatur-literatur yang ditulis pengarang terkenal banyak juga yang mengatakan bahwa menulis itu mudah. Seperti buku ‘Menulis itu Gampang’ yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto.

Ingat pepatah Sunda “lamun keyeng pasti pareng”. Artinya, kalau ada niat yang kuat dalam diri kita sendiri insya Allah segala sesuatu akan terwujud sesuai dengan harapan kita.

Kegiatan menulis menuntut guru menjadi manusia pembelajaran, karena kalau guru mau menulis ia harus banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan apa yang akan ditulisnya. Dengan demikian, guru akan terbiasa dalam aktivitas belajar mengidentifitasi masalah, menganalisis dan mengasah kemampuan dalam mencari solusi dari permasalahan yang muncul. Namun perlu diperhatikan bahwa hal-hal yang telah dikemukakan tersebut di atas, belum merupakan suatu jaminan bahwa bahwa kita dengan sendirinya menjadi penulis yang baik, penulis terkenal. Tidak! Keterampilan menulis tidak akan datang otomatis melainkan melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.
Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk menulis atau mengembangkan kreativitas menulis. Bukankah kita memiliki potensi yang beasar dalam menulis. Sebenarnya, banyak masalah yang membutuhkan berbagai alternatif dalam pemecahannya. Besar harapan saya seandainya guru mau menulis, banyak peserta didik kita yang akan menjadi penulis terkenal.

Penulis sendiri pun menyadari akan kekurangan dan kelemahan dalam hal menulis. Hanya penulis tergugah dan berusaha untuk belajar dan terus belajar. Berlatih meningkatkan kompetensi diri untuk meningkatkan kualitas pengabdian sebagai guru, insya Allah.

Sekali lagi tidak ada kata terlambat untuk mencoba dan membiasakan diri dengan menulis.
Braaal…

Tentang FORUM KKG II SUMEDANG

Hidup di dunia hanya sekali, maka hiasilah dengan hal-hal yang berarti!
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s