BUDAYA MEMBACA


AYO BUDAYAKAN MEMBACA!
Oleh: Angga Meifa Wiliandani, S.Pd.
(Penulis adalah Guru SDN Sarwiru Kec. Surian)

Pendidikan sebagai aspek yang urgen dalam kehidupan individu dalam bermasyarakat dan mencapai kesejahteraan diri merupakan hal yang harus diperoleh oleh seluruh masyarakat Indonesia. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab III Pasal 4 ayat 5, disebutkan bahwa salah satu cara penyelenggaraan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Kita ketahui bersama bahwa ayat al-Qur’an yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad SAW adalah surat al-‘Alaq ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ. خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ.  عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

artinya:
Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah Bacalah, dan Rabbmulah yang maha mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Surat yang pertama turun tersebut dimulai dengan kata: iqra`; perintah untuk membaca.

Dapat dipahami dari hal ini bahwa Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya bahwa membaca adalah awal atau kunci pembuka segala sesuatu bentuk kebaikan. manusia ingin mulia maka ia harus membaca, serta bahwa sebab pemuliaan manusia di atas makhluk ciptaan lainnya diantaranya adalah karena membaca. Membaca adalah jendela dunia, karena dengan membaca maka manusia dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya. Kemampuan dan kemauan membaca akan mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan (skill) seseorang. Semakin banyak membaca dapat dipastikan seseorang akan semakin banyak tahu dan banyak bisa, artinya banyaknya pengetahuan seseorang akan membantu dininya dalam melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dikuasainya, sehingga seseorang yang banyak membaca memiliki kualitas yang lebih dan orang yang sedikit membaca.

Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca, oleh sebab itu kemampuan membaca suatu masyarakat akan membawa masyarakat tersebut kepada kondisi masyarakat belajar (learning society). Terwujudnya masyarakat belajar (learning society) akan membantu tercapainya bangsa yang cerdas (educated nation) yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) unggul sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain.

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh berbagai kalangan menunjukkan bahwa minat baca di kalangan pelajar dan mahasiswa kita sangat rendah, terlebih bagi masyarakat umum. Berikut mi beberapa faktor penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa.

1.    Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dan apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dan sebagainya.

2.    Banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dan buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca.

3.    Banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket.

4.    Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.

5.    Banyaknya keluarga yang belum menanamkan tradisi wajib membaca. Kenyataan yang banyak terjadi kebanyakan orang tua terutama ibu dari anak-anak Indonesia lebih suka menonton TV dari pada membacakan buku untuk anak-anaknya di rumah. Masih sangat sedikit orang tua yang mau menyempatkan diri membaca buku saat berada dalam rumah, orang tua lebih sering menyuruh anaknya belajar atau membaca buku tetapi anak tidak mendapatkan contoh nyata bagaimana orang tuanya juga belajar/membaca buku.

6.    Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Untuk memngkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca.

Tentu kondisi ini sangat kontras dengan upaya yang terus dilakukan oleh pemerintah yaitu untuk mencerdaskan bangsa menuju kepada suatu keberhasilan yang dicita-citakan. Kondisi tersebut tentu harus menjadi keprihatinan kita semua dan kemudian berupaya mencari solusi terbaik untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga tidak akan berlarut dan merugikan kita semua.

Sesungguhnya masyarakat Indonesia bukannya tidak bisa membaca melainkan tidak biasa membaca. Untuk itu, perlu merubah pola pikir dan tidak suka menjadi masyarakat yang gemar membaca guna menuju pada tataran masyarakat belajar. Upaya yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan angka “melek huruf dan aksara” hingga mencapai tataran membaca yang berpriotas pada pembangunan intelektual bangsa. Membaca sebagai kebutuhan “need for life and habit” dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya masyarakat pembelajan yang cerdas.

Berbagai pernyataan di atas memberikan beberapa upaya optimalisasi atau strategi yang perlu diterapkan untuk menumbuhkan minat baca sejak dini di masyakat, yakni dengan cara:

1.    Proses pembelajaran di sekolah harus mengarah pada pembentukan karakter peserta didik untuk rajin membaca dengan memanfaatkan literatur perpustakaan atau sumber belajar lainnya.

2.    Menekan harga buku bacaan agar terjangkau oleh daya beli masyarakat.

3.    Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik. Contoh komik adalah salah satu bentuk bacaan yang bisa menjadi salah satu “pintu masuk” untuk kesenangan anak membaca.

4.    Menciptakan lingkungan kondusif bagi tumbuhnya minat baca anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah. Dengan kata lain menumbuhkan minat baca sejak dini kanena anak usia 18 bulan hingga 4 tahun memiliki “rasa ingin tahu” yang amat besar.

5.    Meninngkatkan frekuensi pameran buku di setiap kota/kabupaten dengan melibatkan penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat, sekolah, dan Depdiknas, dengan mewajibkan siswa dan masyarakat untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.

6.    Di keluarga, orang tua harus memberikan contoh kepada anak-anaknya agar gemar membaca. Berbagai caranya dengan sediakan waktu luang untuk membaca, sediakan bahan bacaan yang cukup, buatlah waktu membaca di rumah, berikan motivasi, dan biasakan mengajak anak untuk datang ke perpustakaan.

Dengan berbagai upaya tersebut diharapkan menjadi dorongan agar menciptakan suasana gemar membaca dan menjadikan anak-anak atau kalangan pelajar menggemani dan bahkan ketagihan membaca. Artinya, bahwa aktifitas membaca bagi mereka itu tidak lagi mejadi kewajiban, melainkan sudah harus menjadi kebutuhan.

Tentu kondisi tersebut harus diupayakan menjadi budaya di kalangan masyarakat kita, tidak saja di sekolah dan perguruan tinggi, melainkan juga di rumah dan dimana saja. Untuk menuju pembudayaan membaca tersebut tentu harus ada keteladanan dari kita semua. Sebab bagaimana mungkin kita berkeinginan menciptakan budaya membaca tersebut kalau kita sendiri dan lingkungan tidak dapat memberikan contoh untuk hal tersebut. Tentu hanya akan menjadi angan-angan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Kita sangat yakin bahwa masyarakat yang menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya dan kebutuhan dalam kehidupan sehari-harinya, tentu akan menjadi bangsa yang maju dan mempunyai gairah besar untuk terus maju meraih cita-cita yang setinggi-tingginya. Tetapi sebaliknya suatu bangsa yang meninggalkan kebiasaan membaca, dapat dipastikan akan menjadi bangsa yang tertinggal dan bahkan semangat untuk maju pun tidak tersirat dalam dirinya. Akibatnya bangsa tersebut akan terus terlelap dalam kejumudan dan ketertinggalannya, loyo, pasrah, menyerah dan tidak berdaya untuk meraih cita-cita.

Kita tidak menginginkan bangsa kita menjadi bangsa yang tertinggal dan loyo, tetapi kita berkeinginan untuk membawa bangsa kita menjadi bangsa yang maju dan bermartabat dan bahkan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang sudah terlebih dahulu maju. Untuk itu tidak ada kata lain kecuali kita harus memulai dengan membudayakan membaca di kalangan bangsa kita dan dimulai dari keluarga dan lingkungan kita, meskipun kita tahu bahwa itu sangat berat dan membutuhkan pengorbanan.

Tentang FORUM KKG II SUMEDANG

Hidup di dunia hanya sekali, maka hiasilah dengan hal-hal yang berarti!
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s