ANAK ADALAH TABUNGAN


ANAK ADALAH “TABUNGAN”
(Nandang Koswara, S.Pd.)

Pada dasarnya anak memerlukan perlakuan yang seimbang, baik jasmani maupun rohani. Olah raga pilihan terbaik untuk membangun jasmani anak, olah nalar pilihan terbaik untuk membina pola pikir dan olah moral pilihan mendasar untuk menopang ajegnya kesiapan anak luar dalam.

Anak adalah “tabungan”. Boleh dikatakan demikian. Kenapa tidak? Anak adalah pelanjut garis keturunan, ahli waris harta dan “tahta” serta pelanjut amanah. Sejak kelahirannya anak cenderung menjadi kebanggaan keluarga. Anak yang baik, pintar, bintang kelas, yang menonjol dibandingkan dengan anak lainnya, kerap menjadi bahan obrolan membanggakan yang tidak pernah membosankan.

Tidak ada anak yang mau dilahirkan, bukan? Di mana, dalam lingkungan keluarga mana, dari rahim siapa, kapan, anak akan tunduk pada ketentuan yang telah digariskan dalam hukum Sang Pencipta. Sebagaimana telah ditetapkan, bahwa: setiap anak berada dalam kondisi fitrah. Tidak ada anak haram, yang ada orang tua haram (jadah).

Orang tualah pada dasarnya akan menghitamputihkan anak kesayangannya. Pada awalnya, tampak anak-anak tidak memiliki hak untuk menentukan keinginan. Namun anak bukan sekedar “anak panah” (kata penyair Gibran). Begitu juga orang tua, mereka tidak sekedar menjadi “busur”. Dalam mengarahkan anak panah, orang tua tetap harus berbekal tujuan agar anak panah bisa mencapai sasaran yang tepat.

Anak adalah sebuah sosok yang lengkap, anak memiliki jasmani sekaligus rohani. Kedua unsur kehidupan ini menuntut perlakuan yang sama, seimbang, dan harmonis agar anak bisa tampil paripurna.

Satu kasus menarik terjadi pada seorang anak usia Sekolah Menengah Atas. Dia memiliki sifat “gila belajar”, Yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sebut saja namanya Yadi. Dia menghapal pelajaran, membaca berbagai macam bacaan, dan mengolah pengetahuan. Karena lebih banyak disibukkan dengan olah nalar semata, Yadi cenderung tidak memiliki teman akrab, kurang bisa bersosialisasi, agak tertutup, pemalu dan kerap memisahkan diri dari keramaian. Dalam segi nalar Yadi memiliki perkembangan yang baik, namun olah sosial kurang diperhatikan.

Pada akhirnya model Yadi tersebut akan terlahir manusia teoritis yang tidak pernah tahu, lebih parahnya tidak mau tahu keadaan sebenarnya di lapangan. Jadilah para cadekia yang sangat betah di belakang meja. Model cedekia seperti ini, biasanya “sangat PD (percaya diri)” sehingga tidak pernah mau percaya terhadap orang lain, menutup diri dan keritik, dan kukuh dengan pendapatnya.

Keseimbangan nalar dengan pengolahan moral merupakan upaya yang sangat mendasar yang harus dilakukan orang tua terhadap anak sejak dini, disaat anak berada dalam usia balita, ketika fungsi raga dan nalar belum lengkap, orang tua harus menyediakan perangkat olah moral lewat pembiasaan dan teladan. Sudah menjadi pengetahuan umum, apa yang dipelajari anak pada usia dini, sangat membekas dalam diri anak. Bekas pendidikan awal itu sangat dalam sehingga sulit untuk mengubahnya.

Mulailah mendidik anak sejak dini, terutama dengan menyiapkan diri untuk menjadi teladan bagi anak sebab pembiasaan menjadi contoh, teristimewa bagi anak-anak lebih efektif dan pada melajui cara lain. Jangan biarkan masa penting ini lewat begitu saja, tanpa mengisinya dengan “tabungan” kebaikan yang mendasar. Kita syukuri pemberian Yang Maha Kuasa dan kesemuanya merupakan titipan yang harus kita jaga, di lain hari hasil dari “tabung” akan menjadi kebanggaan keluarga.

Tentang FORUM KKG II SUMEDANG

Hidup di dunia hanya sekali, maka hiasilah dengan hal-hal yang berarti!
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s