PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN


PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM
MENINGKATKAN
PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS
PERMULAAN
DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Nandang Wahyudi, S.Pd.
(Guru SDN Ujungjaya II, KKG Gugus I Ujungjaya)

I.    PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Membaca dan menulis merupakan dua aspek kemampuan berbahasa yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Pada waktu guru mengajarkan menulis, para siswa tentu akan membaca tulisannya, begitupun sebaliknya.

Media merupakan alat yang dipakai sebagai saluran untuk mengkomunikasikan informasi dari sumber informasi kepada si penerima informasi.

Beranjak dari pernyataan di atas, pada prakteknya pembelajaran membaca dan menulis permulaan di SD terdapat beberapa data empirik yang menjadikan dan dijadikan alasan oleh penulis dari dibuatnya makalah ini. Data tersebut adalah sebagai berikut:

1.    Proses penyampaian informasi/proses pembelajaran yang dilakukan guru cenderung bersifat verbalisme dengan hanya mengandalkan lambang verbal. Menurut Soeparno (5: 1988): “Informasi yang dikomunikasikan lewat lambang verbal saja kemungkinan terserapnya amat kecil, sebab informasi yang demikian itu merupakan informasi yang sangat abstrak sehingga sangat sulit dipahami dan diresapi.”

2.    Dalam pembelajarannya, guru cenderung mangabaikan penanaman konsep awal/fakta dasar dari membaca dan menulis permulaan (kelas I dan II) dengan dalih bahwa anak akan memperoleh kemampuan, pengembangan dan pengalaman langsung dengan sendirinya dalam hal membaca dan menulis pada tahapan kelas selanjutnya (kelas III s.d. VI). Padahal secara teoritis hal tersebut sangat bertolak belakang, bahwa sebenarnya “kemampuan membaca dan menulis yang diperoleh pada membaca dan menulis permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca dan menulis selanjutnya” (Zuchdi, 1996/1997). Gagalnya penanaman konsep awal/fakta dasar dari suatu materi pembelajaran diklaim banyak pihak (guru, dosen, praktisi pendidikan) sebagai awal kegagalan/bencana dari tidak mampunya atau tidak siapnya anak didik dalam menghadapi pembelajaran selanjutnya yang bersifat lebih abstrak dan memerlukan penalaran yang lebih tinggi.

3.    Guru kurang mampu menggunakan dan memanfaatkan media pembelajaran Bahasa Indonesia yang terkait dengan pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Padahal keberadaan media tersebut memiliki tujuan yang sangat baik yaitu: “agar pesan atau informasi yang dikomunikasikan tersebut dapat diserap semaksimal mungkin oleh para siswa sebagai penerima informasi” (Soeparno, 5: 1988).

Beranjak dari data empirik di atas, perlu kiranya penulis mengangkat dan memilih judul makalah ini, yaitu: “Pemanfaatan Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan di SD”. Menurut penulis kesiapan siswa dalam menghadapi pembelajaran membaca dan menulis selanjutnya, salah satunya ditunjang oleh adanya pemanfaatan media pembelajaran yang bersangkutan. Karena dengan pemanfaatan media pembelajaran, peserta didik memperoleh pengalaman langsung yang dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis peserta didik itu sendiri.

1.2    Masalah
Permasalahan yang diangkat/disuguhkan dalam makalah ini bergelut sekitar permasalahan aktual yang berkenaan dengan pemanfaatan media pembelajaran dalam meningkatkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan di SD, dimana permasalahan tersebut berkisar dari apa yang penulis temukan di lapangan.

Diantaranya:
1.    Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM), praktek mengajar guru dominan bersifat verbalisme.

2.    Guru kurang berhasil menanamkan konsep awal/fakta dasar dari suatu materi pembelajaran melalui bantuan benda/objek kongkrit.

3.    Guru kurang memahami dan tidak banyak menggunakan media pembelajaran dalam proses belajar mengajarnya.

4.    Tidak tersedianya media pembelajaran yang terkait dengan pembelajaran membaca dan menulis permulaan.

1.3    Tujuan
Tujuan dari dibahasnya permasalahan di atas adalah agar:

1.    Guru dalam PBM-nya diharapkan tidak selalu mendominankan verbalisme, melainkan lebih kepada pengalaman langsung.

2.    Guru senantiasa berusaha dan bekerja keras dengan sungguh-sungguh dalam membimbing siswanya dalam memahami dan menguasai sebuah konsep awal/fakta dasar dari suatu materi pembelajaran yang sedang dilaksanakannya (khususnya dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan).

3.    Guru dalam upaya meningkatkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan senantiasa melibatkan/menggunakan media pembelajaran yang menunjang.

4.    Guru dapat berkreativitas dalam mengatasi keterbatasan/ketiadaan media pembelajaran yang dibutuhkan dalam praktek pembelajarannya.

II. KONSEP DAN PEMBAHASAN
2.1 Konsep dan Pengertian Media
“Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar” (Sadiman, dkk., 6: 1984).

Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan di Amerika (dalam Sadiman, dkk., 6: 1984), membatasi media sebagai “segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.”

Gagne (dalam Sadiman, dkk., 6: 1984) menyatakan bahwa “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.”
Briggs (dalam Sadiman, dkk., 6: 1984) berpendapat bahwa “media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.”

Asosiasi Pendidikan Nasional memiliki pengertian yang berbeda. “Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca” (Sadiman, dkk., 7: 1984).

Menurut Soeparno (1: 1988) dalam bukunya menyatakan:
Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau informasi dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver). Dalam dunia pengajaran, pada umumnya pesan atau informasi tersebut berasal dari sumber informasi, yakni guru; sedangkan sebagai penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau informasi yang dikomunikasikan tersebut berupa sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai oleh para siswa.

Apapun batasan yang diberikan, ada persamaan diantara batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

2.2 Konsep Pentingnya Pembelajaran Membaca Permulaan
Kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru; sebab, jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai.

2.3 Konsep Pentingnya Pembelajaran Menulis Permulaan
Kemampuan menulis merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat produktif; artinya kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan; dalam hal ini menghasilkan tulisan.

Sebelum sampai pada tingkat mampu menulis, siswa harus mulai dari tingkat awal, tingkat permulaan, mulai dari pengenalan lambang-lambang bunyi. Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh pada tingkat permulaan pada pembelajaran menulis permualaan itu, akan menjadi dasar peningkatan dan pengembangan kemampuan siswa selanjutnya. Apabila dasar itu baik, kuat, maka dapat diharapkan hasil pengembangannya pun akan baik pula dan apabila dasar itu kurang baik atau lemah, maka dapat diperkirakan hasil pengembangannya akan kurang baik juga.

2.4 Pendapat dan Pandangan Pakar Berkenaan dengan Masalah
2.4.1 PBM sebagai Proses Komunikasi
Permasalahan aktual pertama yang penulis temukan adalah bahwa dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) Bahasa Indonesia, praktek mengajar guru dominan bersifat verbalisme.

PBM pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Beranjak dari pernyataan di atas, maka guru SD pada prakteknya mengajar cenderung proses komunikasi yang dilakukannya dominan verbalisme. Sadiman, dkk., (12: 1984) menjelaskan dengan gamblang kronologis proses komunikasi yang bersifat verbalisme dalam PBM dengan dampaknya apabila verbalisme ini tidak berhasil:

Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada di kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol non-verbal atau visual. Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi itu disebut encoding. Selanjutnya penerima pesan (bisa siswa, peserta latihan ataupun guru dan pelatihnya sendiri) menafsirkan simbol-simbol komunikasi tersebut sehingga diperoleh pesan. Proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut disebut decoding.

Adakalanya penafsiran tersebut berhasil, adakalanya tidak. Penafsiran yang gagal atau kurang berhasil berarti kegagalan atau kekurangberhasilan dalam memahami apa-apa yang didengar, dibaca, atau dilihat dan diamatinya.

2.4.2 Perkembangan Mental Anak SD
Permasalahan aktual kedua yang penulis temukan adalah guru kurang berhasil dalam penanaman konsep awal/fakta dasar dari suatu materi pembelajaran melalui bantuan benda/objek kongkrit.

Ahli psikologi bangsa Swiss Jean Piaget (Karim, dkk., 19: 1996/1997) meyakini bahwa “perkembangan mental setiap pribadi melewati empat tahap, yaitu: sensorimotor, praoperasional, operasi kongkrit, dan operasi formal.”

Dari keempat perkembangan mental tersebut di atas yang merupakan tahapan perkembangan mental anak SD adalah tahap “operasi kongkrit” (7-12 tahun). Pada tahap ini penanaman konsep awal/fakta dasar dari suatu materi pembelajaran sangat tepat dilakukan dengan menggunakan alat bantu/saluran yang berupa benda kongkrit. Karena masih menurut Jean Piaget (Karim, dkk., 19: 1996/1997) menyatakan bahwa: “Selama tahap ini anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda kongkrit untuk menyelidiki hubungan dan model-model ide abstrak.”

2.4.3 Kegunaan Media Pembelajaran/ Pendidikan dalam PBM
Permasalahan aktual ketiga yang penulis temukan adalah guru kurang memahami dan tidak banyak menggunakan media pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar-nya (PBM). Permasalahan tersebut muncul karena guru itu sendiri secara umum belum dan atau bahkan tidak mengetahui dan memahami dari kegunaan-kegunaan media pembelajaran dalam PBM. Sadiman, dkk. (17: 1984) lebih jauh menjelaskan secara umum kegunaan-kegunaan dari media pembelajaran/ pendidikan dalam PBM. Diantaranya sebagai berikut:

1.    Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).

2.    Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya: objek yang terlalu besar-bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai, film, atau model.

3.    Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.

4.    Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam: (1) memberikan perangsang yang sama; (2) mempersamakan pengalaman; dan (3) menimbulkan persepsi yang sama.

2.4.4 Keberadaan Media Pembelajaran di SD
Permasalan aktual keempat yang penulis temukan adalah tidak tersedianya media pembelajaran yang terkait dengan pembelajaran membaca dan menulis permulaan.
Keberadaan media pembelajaran di SD memang merupakan penomena yang dilematis; artinya manakala media pembelajaran itu ada di SD maka ia (media) hanya akan menjadi sebuah pajangan belaka atau sebuah arsip atau sebuah inventaris sekolah; dan apabila tidak ada atau tidak memiliki maka akan menjadi sumber “kambing hitam” pertama atas gagalnya peserta didik dalam memproses dan memahami suatu informasi atau materi pembelajaran tertentu.

Terkait dengan pembelajaran membaca dan menulis permulaan di SD, dalam PBM-nya guru sangat memerlukan alat bantu/media pembelajaran. Salah beberapa contohnya adalah keping-keping huruf, kartu kata, tabel huruf dan lain sebagainya. Akan tetapi keberadaannya di SD sangat sulit ditemukan. Padahal selain keberadaan media itu sebagai salah satu sumber belajar, “perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografi, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu diatasi dengan pemanfaatan media pendidikan” (Sadiman, dkk., 14: 1984).

2.5 Pembahasan
Dari keempat permasalahan di atas yang penulis temukan, tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal tersebut merupakan penomena di SD yang senantiasa baku/kekal dan akurat kaitannya dengan pemanfaatan media pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran/PBM.

Semua permasalahan di atas apabila kita kaji, semuanya lebih banyak bertumpu/bersumber pada guru itu sendiri; artinya pada kasus pemanfaatan media pembelajaran dalam upaya meningkatkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan di SD, lebih dominan guru dituntut untuk mampu bersikap profesional dalam pemanfaatan media pembelajaran yang ada dan mampu menampilkan daya kreativitas yang tinggi dalam mengambil tindakan dan mensiasati kekurangan/ketiadaan media pembelajaran dalam upaya meningkatkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Hal ini senada dengan Drs. Uyoh Sadulloh, M.Pd (2: 2006) yang mengmukakan: “Dalam pendidikan tidak dikenal suatu resep yang pasti (mutlak), karena yang utama dalam pendidikan adalah kreativitas dan kepribadian pendidik.” Maka, apabila guru memiliki sikap profesionalisme, kepribadian dan kreativitas yang tinggi, itu bisa merupakan solusi awal yang baik dalam upaya menerapkan dan memanfaatkan sebuah media pembelajaran dalam suatu proses KBM, khususnya pembelajaran membaca dan menulis permulaan.

Lebih jauh penulis mencoba menyodorkan beberapa solusi yang mungkin bisa menjawab permasalahan-permasalahan tersebut di atas, yaitu:

1.    Sebagai pekerjaan profesi, guru hendaknya dalam setiap nafas pekerjaannya selalu mau dan berani dalam mencoba dan menerapkan sesuatu yang baru (sekalipun sebenarnya hal tersebut ada sejak dulu namun jarang digunakan) seperti halnya melibatkan media pembelajaran dalam KBM.

2.    Guru juga senantiasa memperhatikan tingkat perkembangan mental siswa dalam upaya menanamkan konsep awal/fakta dasar dari pembelajaran membaca dan menulis permulaan.

3.    Guru senantiasa selalu menambah wawasan keilmuannya dalam hal pemilihan media pembelajaran yang tepat seperti: waktunya kapan; terus cara pengoperasiannya bagaimana; klasifikasi dan karakteristiknya seperti apa; dan lain sebagainya. Karena apabila diibaratkan media pembelajaran ini ibarat sebuah kebutuhan dalam meningkatkan suatu pembelajaran tertentu. Arti kebutuhan di sini adalah “kesenjangan antara kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang kita inginkan dengan kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang” (Sadiman, dkk., 100: 1984). Contohnya: apabila guru pada suatu proses pembelajaran membaca permulaan menginginkan siswanya dapat menguasai 10 kata, sedangkan pada saat tersebut siswa hanya menguasai 2 kata, maka ada kesenjangan 8 kata. Dalam hal ini terdapat kebutuhan untuk mengajar membaca permulaan sebanyak 8 kata terhadap siswa tersebut. Upaya mengatasi kesenjangan kebutuhan tersebut salah satunya adalah dengan pemanfaatan media pembelajaran.

4.    Tingkatkan kreativitas dan mencoba diri untuk mengkomunikasikan kebutuhan akan media pembelajaran dalam upaya meningkatkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan ini dengan pihak sekolah/lembaga (dalam hal ini Kepala Sekolah), agar sebagian dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) barangkali bisa dialokasikan untuk memfasilitasi keberadaan media pembelajaran tersebut.

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan. Dalam hal ini yang bertindak sebagai penyampai pesan adalah guru dan penerima pesannya adalah siswa. Demi efektifitas dan efisiensi dalam proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan, maka pesan-pesan yang hendak disampaikan hendaknya melalui sebuah saluran/media tertentu. Saluran/media yang dimaksud adalah ‘media pembelajaran’.

Demikian pula halnya dengan pembelajaran membaca dan menulis permulaan di SD, demi efektifitas dan efisiensi dalam meningkatkan pembelajaran tersebut, alangkah baiknya keberadaan/kegunaan media pembelajaran yang ada dan yang diperlukan dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajarannya.

Keberhasilan penyampaian (khususnya oleh guru SD kelas I dan II) dan penguasaan (oleh siswa) konsep awal/fakta dasar dari pembelajaran membaca dan menulis permulaan merupakan tonggak awal bagi siswa dalam menghadapi dan menguasai pembelajaran membaca dan menulis selanjutnya (membaca dan menulis lanjutan, kelas III, IV, V, VI).

3.2 Saran-Saran
1.    Untuk menghindari dominasi verbalisme yang dapat menimbulkan persepsi yang berbeda diantara siswa, karena perbedaan latar belakang dan karakteristinya, hendaknya guru memanfaatkan dan menggunakan media pembelajaran untuk memberikan pengalaman yang sama terhadap siswa serta meningkatkan derajat kekongkritannya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

2.    Tingkatkan terus daya kreativitas guru dalam upaya menerapkan dan mengantisipasi kekurangan dan atau ketiadaan media pembelajaran, khususnya dalam meningkatkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan di SD kelas I dan II.

DAFTAR RUJUKAN
Karim, Muchtar A., dkk. (1996/1997). Pendidikan Matematika I. Depdikbud Dirjendikti Bagian Proyek Pengembangan PGSD IBRD: LOAN 3496-IND.
Sadiman, Dr. Arief S., M.Sc., dkk. (1984). Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sadulloh, Drs. Uyoh, M.Pd. (2006). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Soeparno, Drs. (1988). Media Pengajaran Bahasa.Yogyakarta: PT Intan Pariwara.
Zuchdi, Darmiyati dan Budiasih. (1998/1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Depdikbud Dirjendikti Bagian Proyek Pengembangan PGSD IBRD: LOAN 3496-IND.

Tentang FORUM KKG II SUMEDANG

Hidup di dunia hanya sekali, maka hiasilah dengan hal-hal yang berarti!
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN

  1. Ping balik: PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN DI SEKOLAH DASAR « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s